Lampu Terakhir di Rumah Panggung
Ketika Sari pulang ke kampung untuk menjual rumah panggung peninggalan ibunya, ia justru menemukan buku kas tua, lampu minyak yang tak pernah padam, dan rahasia tentang ayah yang selama ini dianggap menghilang tanpa kabar.
Lampu Terakhir di Rumah Panggung
Hujan turun tipis di atas rawa ketika perahu kecil yang kutumpangi merapat ke titian kayu yang telah lama miring ke kiri. Dari kejauhan, rumah panggung itu masih tampak sama—berdiri di atas tiang-tiang ulin yang menghitam oleh usia, dengan jendela lebar yang menghadap ke sungai kecil, dan lampu gantung di beranda yang dulu selalu dinyalakan ibuku menjelang magrib. Hanya satu hal yang berbeda: rumah itu kini tampak seperti seseorang yang terlalu lama menahan napas.
Aku pulang bukan untuk bernostalgia. Aku pulang untuk menjual rumah itu.
Tiga bulan setelah ibu dikuburkan, semua orang di Banjarmasin seperti sepakat mengatakan kalimat yang sama kepadaku dengan nada paling masuk akal di dunia: buat apa mempertahankan rumah kayu tua di kampung? Aku bekerja sebagai akuntan di kota, hidupku sibuk, dan rumah panggung itu lebih sering ditinggali sepi daripada manusia. Menjualnya adalah keputusan rasional. Setidaknya begitu yang kuucapkan pada diriku sendiri setiap malam.
Namun saat telapak kakiku menyentuh papan beranda yang lembap, rasionalitas itu langsung terasa seperti pakaian pinjaman yang kekecilan.
Di ambang pintu, Pak Darman berdiri dengan payung hitam dan wajah keriput yang sejak kecil kukenal sebagai wajah orang yang terlalu sering menyimpan kabar buruk demi menjaga orang lain tetap tenang.
"Kau jadi juga datang sendiri, Ri," katanya pelan.
"Kalau menunggu sepupu-sepupuku, rumah ini mungkin roboh duluan."
Ia tertawa tipis, tapi matanya tidak ikut tertawa. "Aku sudah bersihkan sedikit. Kamar ibumu juga sudah kubuka jendelanya. Tapi ada satu pesan almarhumah yang belum sempat kusampaikan."
Aku menoleh. "Pesan?"
Pak Darman tidak langsung menjawab. Ia justru menyerahkan sebuah kunci kuningan kecil yang diikat dengan benang merah pudar. "Kalau kau benar-benar datang untuk menutup rumah ini, buka loteng sebelum matahari tenggelam. Jangan sesudah azan malam. Itu pesan ibumu. Persis begitu katanya."
Aku menatap kunci itu, lalu wajahnya. "Kenapa harus dramatis sekali?"
"Karena ibumu tahu ada hal-hal yang cuma berani menunjukkan diri sebelum gelap turun." Ia menepuk gagang pintu. "Aku tunggu di rumah seberang. Kalau perlu bantuan, panggil saja."
Ia pergi sebelum aku sempat bertanya lebih jauh.
Rumah yang Mengingat
Di dalam, rumah itu berbau kayu basah, minyak telon, kapur barus, dan sedikit aroma pandan kering yang dulu selalu diselipkan ibu di sela-sela lemari. Aku membuka semua jendela. Cahaya siang yang pucat masuk perlahan, menimpa meja makan tua, radio rusak, rak piring seng, dan dinding-dinding yang dipenuhi foto keluarga dalam bingkai kusam.
Di salah satu foto, aku melihat diriku saat berumur tujuh tahun, duduk di pangkuan ibu sambil memegang kembang api. Di belakang kami berdiri seorang lelaki tinggi berkemeja putih, wajahnya agak kabur karena film lama, tapi cukup jelas untuk membuat dadaku mengencang.
Ayah.
Atau lebih tepatnya: sosok yang selama ini dilarang disebut terlalu lama di rumah ini.
Versi cerita yang kuterima sejak kecil sederhana: ayah pergi bekerja ke hulu, lalu tak pernah kembali. Ada yang bilang perahunya terbalik. Ada yang bilang ia lari bersama perempuan lain. Ibu tidak pernah membenarkan atau membantah. Ia hanya menghindar setiap kali aku bertanya, lalu bekerja lebih keras dari siapa pun yang kukenal—menjahit, membuat wadai untuk dititipkan ke pasar, bahkan kadang mengajar anak-anak mengaji agar aku tetap bisa sekolah.
Aku pernah marah pada diamnya. Saat SMA, aku berteriak bahwa ibu terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa ayah memang tidak pernah menginginkan kami. Ibu hanya menatapku lama, lalu berkata, "Ada kebenaran yang bila dibuka terlalu cepat, justru menghancurkan anak yang belum siap menerimanya."
Waktu itu aku menganggapnya alasan murahan.
Kini, di rumah yang dipenuhi gema langkahku sendiri, kalimat itu datang lagi seperti serpihan kayu yang menusuk telapak tanpa suara.
Aku masuk ke kamar ibu. Di atas ranjang, kelambu putih sudah dilipat rapi. Lemari jati di pojok masih terkunci. Di meja kecil samping tempat tidur, ada lampu minyak kaca berukir bunga melati. Anehnya, sumbunya masih hitam baru, seolah baru dipakai semalam.
Padahal rumah ini kosong sejak ibu dirawat di rumah sakit dua bulan sebelum meninggal.
Aku menyalakan lampu kamar untuk mengusir rasa merinding, tetapi lampunya berkedip dua kali lalu mati total. Seluruh rumah mendadak redup oleh mendung yang makin tebal.
Refleks, aku menyentuh lampu minyak itu. Tanganku berhenti ketika kulihat secarik kertas di bawah alasnya.
Tulisan ibu.
Kalau lampu rumah mati saat kau tiba, nyalakan lampu ini. Jangan takut pada rumah yang pernah dijaga doa.
Untuk pertama kalinya sejak turun dari perahu, aku benar-benar duduk.
Tanganku gemetar saat menyalakan sumbu. Api kecil menyala, memantul di kaca bening, lalu menebar cahaya kuning yang lembut dan akrab. Seolah-olah ibu baru saja keluar ke dapur dan akan kembali membawa teh panas kapan saja.
Aku menangis tanpa suara.
Kunci Loteng
Menjelang sore, hujan berhenti. Aku membawa lampu minyak dan kunci kuningan itu ke lorong belakang. Tangga loteng terlipat di langit-langit, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan. Setelah kursi kutarik dan pengait kubuka, tangga kayu berderit turun perlahan, menebarkan debu yang berkilau di berkas cahaya senja.
Loteng rumah itu sempit, panas, dan dipenuhi peti-peti lama. Aku berlutut sambil mengangkat lampu minyak lebih tinggi. Di sudut paling ujung ada sebuah peti kecil dari kayu nangka, terkunci dengan gembok tua. Kunci kuningan dari Pak Darman pas tepat di lubangnya.
Begitu tutup peti terbuka, aroma kertas lama menyeruak.
Isinya bukan emas, bukan sertifikat rumah, bukan pula simpanan uang seperti yang diam-diam sempat kubayangkan. Isinya hanya tiga benda: buku kas bersampul hijau, map cokelat berisi surat-surat, dan sebuah amplop putih yang di bagian depannya tertulis namaku dengan tulisan tangan ibu.
Aku membuka amplop itu terlebih dahulu.
Sari,
Kalau kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak sempat lagi menjawab pertanyaanmu dengan suara yang kau kenal. Maaf karena sepanjang hidupmu aku lebih sering mengajarkanmu bertahan daripada menjelaskan luka-lukaku sendiri.
Kau selalu mengira ayahmu meninggalkan kita. Itu tidak sepenuhnya benar.
Pada tahun kau berumur lima tahun, ayahmu difitnah mengambil uang koperasi sungai. Orang-orang yang berutang dan takut terbongkar butuh kambing hitam. Ayahmu menolak menandatangani pembukuan palsu. Malam itu ia dipukul di dermaga, lalu dipaksa pergi sebelum polisi datang. Ia sempat pulang hanya sekali, tengah malam, dalam keadaan berdarah. Ia memintaku ikut kabur. Aku tidak mau. Kau demam tinggi, dan aku tidak sanggup membawamu lari ke tempat yang tidak pasti.
Sebelum subuh, ia pergi membawa janji akan kembali setelah membersihkan namanya. Ia tidak pernah sempat pulang lagi, tetapi bukan karena melupakan kita.
Kalau suatu hari kau ingin tahu siapa yang merusak hidup keluarga kita, lihat buku kas itu. Nama-namanya ada di sana. Pak Darman tahu sebagian, tapi ia juga sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan.
Tentang rumah ini: jangan menjualnya kalau keputusan itu lahir dari marah atau lelah. Rumah bisa diganti, tapi akar yang kau buang saat emosi akan tumbuh menjadi penyesalan yang panjang.
Dan satu hal lagi: lampu minyak di kamarku bukan sekadar lampu. Ayahmu membuat dudukannya berongga. Ada sesuatu di sana yang kupikir baru boleh kaulihat setelah kau mengerti bahwa cinta tidak selalu datang dengan kepulangan yang utuh.
Ibumu, Murni
Aku membaca surat itu dua kali, lalu tiga kali, seakan huruf-hurufnya mungkin berubah jika kutatap cukup lama.
Di luar, suara burung rawa bersahutan. Di dalam dadaku, sesuatu yang selama bertahun-tahun beku mulai retak.
Aku membuka buku kas hijau itu. Di halaman-halaman awal, ada catatan setoran koperasi nelayan, nama-nama warga, jumlah pinjaman, dan tanda tangan penerimaan. Di halaman belakang, tulisan ayah berubah kacau, seolah dibuat dalam keadaan terburu-buru. Ada daftar angka yang tidak sesuai. Ada tiga nama yang berulang. Salah satunya membuat tengkukku dingin: Haji Rasyid.
Pemilik perusahaan kayu. Orang paling disegani di kecamatan. Ayah dari Arman—laki-laki yang minggu lalu menawar rumah ini melalui perantara dengan harga tinggi dan terlalu cepat.
Aku teringat cara Arman tersenyum ketika meneleponku. Rumah tua itu akan lebih bermanfaat jika jadi gudang, katanya. Waktu itu aku kesal, tapi tak curiga. Sekarang perutku mendadak mual.
Aku membuka map cokelat. Di dalamnya ada salinan laporan, kuitansi, dan satu lembar surat pernyataan yang belum sempat diserahkan ke polisi. Semua mengarah pada penggelapan uang koperasi yang melibatkan orang-orang berpengaruh. Ayah menolak ikut serta, lalu disingkirkan.
Selama ini aku membenci lelaki yang kukira pengecut. Ternyata ia mungkin justru satu-satunya orang yang tidak mau menjual harga dirinya.
"Ya Allah..."
Suara itu keluar begitu saja dari bibirku.
Orang yang Datang Saat Senja
Aku turun dari loteng dengan kaki lemas. Langit di luar sudah berwarna ungu tembaga. Saat aku hendak masuk ke kamar ibu untuk memeriksa dudukan lampu minyak, terdengar ketukan di pintu depan.
Aku menyembunyikan buku kas dan map ke balik kain jarik di lenganku, lalu berjalan pelan ke beranda.
Arman berdiri di sana dengan dua pria yang tidak kukenal. Kemeja mahalnya rapi, sepatunya bersih dari lumpur, dan senyumnya terlalu licin untuk disebut ramah.
"Sari," katanya, seolah kami teman lama. "Aku dengar kau sudah tiba. Kupikir sebaiknya aku datang langsung. Soal rumah itu, kalau kau mau, malam ini juga kita bisa bereskan uang muka."
"Cepat sekali," kataku datar.
"Kesempatan baik tak perlu menunggu. Lagi pula rumah kosong begini rawan." Matanya bergerak menelusuri bagian dalam rumah. "Kau sendirian?"
Aku tidak menjawab. "Aku belum memutuskan apa-apa."
Arman melangkah setengah langkah mendekat. "Justru karena itu aku kemari. Aku tak ingin ada orang lain memengaruhimu dengan cerita-cerita lama. Orang kampung suka melebih-lebihkan masa lalu. Ujung-ujungnya kau capek sendiri."
Dadaku menegang. "Cerita lama yang mana?"
Senyumnya menipis. "Tentang ayahmu, misalnya. Beberapa nama lama sebaiknya dibiarkan tenggelam. Untuk kebaikan semua orang."
Sebelum aku bisa membalas, Pak Darman muncul dari samping rumah dengan langkah lebih cepat dari biasanya. "Sudah magrib, Man. Bukan waktu baik untuk menekan anak gadis di rumah duka."
Arman meliriknya dingin. "Saya datang baik-baik, Pak Tua."
"Orang baik-baik tidak membawa dua bayangan hanya untuk bicara harga rumah."
Salah satu pria di belakang Arman maju setapak, tapi Arman menahannya dengan isyarat kecil. Lalu ia menatapku lagi. Ada sesuatu yang mengeras di sana.
"Pikirkan tawaranku, Sari. Besok pagi aku datang lagi. Dan kalau kau menemukan barang-barang lama yang membuatmu bingung, lebih baik serahkan padaku. Kertas tua sering menimbulkan salah paham."
Mereka pergi setelah itu, meninggalkan bau parfum tajam dan ancaman yang bahkan tidak berusaha disembunyikan.
Pak Darman menutup pintu, lalu memandang wajahku yang mungkin sudah terlalu pucat untuk berbohong. "Kau menemukannya, ya?"
Aku mengangguk.
Lelaki tua itu duduk perlahan di bangku beranda. "Aku kira ibumu akan membawa rahasia itu sampai mati."
"Kenapa Bapak diam selama ini?"
Ia menatap rawa yang mulai gelap. "Karena dulu aku juga takut. Dan karena setelah ayahmu hilang, ibumu memintaku menjaga kalian, bukan membalas dendam. Aku pikir diam adalah bentuk menjaga. Tapi mungkin diam juga yang membuat luka kalian membusuk paling lama."
Aku duduk di depannya. Di dalam rumah, lampu minyak masih menyala, mengirim cahaya kuning ke lantai papan seperti jalan kecil menuju masa lalu.
"Ayahku masih hidup?"
Pertanyaan itu pecah begitu saja.
Pak Darman lama tidak menjawab. Lalu ia menghela napas. "Tiga tahun setelah ia pergi, ada kabar dari Samarinda. Ia bekerja di pelabuhan dengan nama lain. Ia kirim uang lewat orang perantara. Semua kuterima dan kuberikan pada ibumu. Tapi setelah itu kabarnya putus. Aku tak tahu apakah ia masih hidup atau tidak. Yang kutahu, setiap lembar uang yang datang selalu diselipkan satu kalimat yang sama: Jaga lampu rumah tetap menyala sampai Sari cukup besar untuk mengetahui yang sebenarnya."
Aku menutup mulutku sendiri. Selama ini aku hidup dari amarah yang ternyata dibangun di atas cerita yang patah.
Rongga di Bawah Api
Malam turun sepenuhnya. Genset rumah seberang belum juga dinyalakan, dan seluruh kampung seperti tenggelam dalam hitam yang lembut. Aku kembali ke kamar ibu bersama Pak Darman. Lampu minyak diletakkan di tengah lantai.
Dengan obeng tua, kami melepas dudukannya perlahan. Benar saja—bagian bawah kayu ukir itu berongga. Di dalamnya terselip plastik tipis yang membungkus sebuah foto kecil dan secarik surat lain.
Foto itu membuat napasku tercekat.
Ayah berdiri di depan bangunan pelabuhan, tampak lebih kurus, tapi jelas hidup. Di belakang foto tertulis tanggal: 17 Agustus 2014. Tahun itu aku baru masuk kuliah dan sibuk membenci lelaki yang tak pernah kukenal lagi.
Surat kecil itu ditulis dengan tangan yang berbeda dari tulisan ibu—lebih miring, lebih tegas.
Murni,
Kalau kau menerima ini, berarti Pak Jali berhasil menemukan orang yang bisa dipercaya. Aku belum bisa pulang. Nama mereka terlalu besar. Aku sudah coba bicara pada aparat, tapi semua berputar kembali ke orang-orang yang sama.
Simpan salinan buku kas. Jangan serahkan sebelum Sari cukup kuat. Kalau rumah itu suatu hari hendak mereka beli dengan harga tergesa, jangan percaya. Yang mereka incar bukan kayunya, tapi tanah di bawahnya. Ada dokumen lama yang membuktikan bantaran ini milik keluarga ayahmu dan tidak bisa dikuasai perusahaan tanpa persetujuan ahli waris.
Katakan pada Sari, kalau ia kelak membenciku, aku mengerti. Lebih baik dibenci daripada membuat kalian ikut lenyap.
Aku pulang kalau keadaan sudah bersih.
— F
Aku menunduk, surat itu bergetar di tanganku. Untuk pertama kalinya, ayah bukan lagi bayangan buruk atau nama yang dilarang. Ia berubah menjadi manusia: ketakutan, tersudut, gagal pulang, tetapi tidak pernah benar-benar melepaskan kami.
Pak Darman menepuk pundakku. "Rumah ini berdiri di atas tanah yang nilainya jauh lebih besar daripada yang terlihat. Haji Rasyid sudah lama mengincarnya untuk jalan akses tongkang. Kalau kau jual sekarang, semua bukti hilang."
Di luar, terdengar suara mesin mobil berhenti tidak jauh dari titian.
Aku dan Pak Darman saling pandang.
Lalu seseorang mengetuk jendela samping tiga kali—cepat, pendek, seperti sandi.
Pak Darman memucat. "Itu ketukan ayahmu dulu."
Aku berdiri terlalu cepat sampai kursi hampir jatuh. Jantungku menghantam rusukku. Dari balik tirai tipis, aku melihat bayangan seorang lelaki tinggi berdiri di halaman, basah oleh gerimis yang turun lagi, dengan topi lusuh menutupi sebagian wajahnya.
Ia tidak bergerak masuk. Ia hanya berdiri di bawah hujan, menatap cahaya lampu minyak di tanganku seperti seseorang yang telah tersesat terlalu lama dan akhirnya menemukan satu-satunya tanda bahwa ia masih boleh pulang.
"Ri..." bisik Pak Darman, suaranya parau. "Sebelum kau buka pintu, ada satu hal yang harus kau tahu."
Aku menoleh kepadanya, sementara ketukan keempat terdengar lebih pelan, seakan orang di luar mulai kehabisan keberanian.
Pak Darman menggenggam buku kas hijau di dadanya, lalu berkata, "Lelaki itu mungkin benar ayahmu. Tapi nama yang dipakainya sekarang adalah nama yang sama dengan orang yang besok akan datang membeli rumah ini atas perintah Haji Rasyid."
