Kabut Terakhir di Stasiun Gunung
Nadya kembali ke stasiun tua di lereng gunung untuk menjual rumah dinas mendiang kakeknya, tetapi koper kulit yang tertinggal di ruang sinyal dan kemunculan masinis yang dinyatakan tewas saat longsor justru membuka rahasia tentang jalur kereta yang sengaja dikubur.
Kabut Terakhir di Stasiun Gunung
Kabut turun terlalu cepat di lereng Gunung Argapura ketika aku menjejakkan kaki di peron Stasiun Kalijambu yang sudah tujuh tahun berhenti menerima penumpang. Rel di sisi barat tertutup lumut dan rumput liar, kaca ruang tunggu retak seperti es yang menua, dan lonceng keberangkatan yang dulu menggema sampai ke kebun teh kini menggantung diam di bawah atap seng berkarat. Dari jalan raya, bangunan itu hanya tampak seperti stasiun tua yang kalah oleh zaman. Dari jarak sedekat ini, ia terasa seperti seseorang yang belum selesai mengucapkan kalimat terakhirnya.
Aku datang membawa map penjualan rumah dinas peninggalan kakekku, bukan kenangan.
Selama perjalanan dari Jember, aku terus mengulang alasan-alasan yang terdengar rapi. Aku bekerja di kota, tak mungkin bolak-balik mengurus rumah kayu di belakang stasiun yang kini lebih sering disinggahi kabut daripada manusia. Jalur lama sudah mati. Kereta wisata yang dulu sempat dijanjikan tak pernah benar-benar jadi. Seorang pengusaha villa menawar rumah dan lahan belakangnya dengan harga yang katanya terlalu bagus untuk ditolak. Semua orang menyebutku beruntung karena bisa melepas beban sebelum rumah itu lapuk dimakan hujan gunung.
Namun ketika aroma besi dingin, tanah basah, dan daun teh yang tertiup angin sore menyentuh wajahku, keberuntungan itu mendadak terdengar seperti nama lain untuk pengkhianatan.
Di ujung peron, Pak Harun berdiri dengan mantel hijau tua dan lampu senter kuning di tangannya. Ia dulu kepala penjaga wesel, tangan kanan kakekku, dan satu-satunya orang yang tetap tinggal di dusun ini bahkan setelah jadwal kereta terakhir dihapus dari papan. Tubuhnya kini lebih kurus, bahunya melengkung, tetapi tatapannya masih setegas suara peluit yang dulu membuat seluruh stasiun menahan napas.
"Akhirnya kau pulang juga, Nad," katanya saat aku mendekat.
"Saya pulang untuk membereskan semuanya, Pak. Bukan untuk tinggal."
Ia menatap map di lenganku, lalu ke bangunan sinyal di sisi timur rel. "Orang yang benar-benar ingin membereskan sesuatu biasanya datang siang-siang, bukan menunggu kabut turun."
"Kereta dari kota telat."
"Atau mungkin tempat ini memang ingin kau datang pada jam ketika ia lebih berani bicara." Ia mengulurkan sebuah kunci besi panjang yang ujungnya kehitaman. "Kakekmu pernah bilang, kalau suatu hari cucunya datang hanya untuk menjual rumah dinas, suruh dia buka ruang sinyal sebelum jam tujuh malam. Kalau lewat dari itu, suara rel akan menelan keberaniannya sendiri."
Aku menahan helaan napas. "Kenapa semua orang tua di sini suka sekali meninggalkan pesan yang terdengar seperti kutukan?"
Pak Harun tertawa pendek. "Karena ada rahasia yang tak pernah sanggup hidup di siang bolong."
Ia meninggalkanku dengan kunci itu sebelum aku sempat bertanya lebih jauh.
Rumah Dinas yang Menunggu
Rumah dinas kakek berdiri tak sampai lima puluh langkah dari stasiun, dipisahkan oleh jalan kecil yang kini ditumbuhi pakis liar. Dinding papan pinusnya mulai menghitam, jendela-jendelanya tinggi dan sempit, dan teras depannya masih memajang bangku rotan tempat kakek biasa duduk memandangi rel setiap subuh. Di sudut pagar, mawar gunung yang ditanam nenek tetap hidup dengan keras kepala, berbunga kecil-kecil di tengah udara dingin seperti menolak dilupakan.
Aku membuka pintu depan dan aroma kapur barus, kayu lembap, serta teh kering segera menyambut. Rumah itu kosong sejak kakek meninggal dua tahun lalu. Ibu sudah terlalu lelah untuk kembali ke dusun, dan aku terlalu sibuk untuk mengakui bahwa setiap sudut rumah ini mengandung bagian-bagian diriku yang tidak pernah benar-benar tumbuh dewasa.
Di ruang tamu, lemari kaca masih memajang miniatur lokomotif hitam, peluit kuningan, dan jam dinding bundar yang sudah mati. Di dinding paling tengah tergantung foto hitam putih kakek bersama beberapa pegawai stasiun. Di antara mereka ada satu wajah yang membuat langkahku berhenti tanpa izin.
Raka.
Seragam masinis muda itu terlalu rapi untuk wajah yang dulu selalu tampak seolah habis tertawa. Ia berdiri setengah langkah di belakang kakek, memegang topi masinis di dada, dengan mata yang bahkan dalam foto lama pun terlihat terlalu hidup untuk menjadi kenangan yang tenang.
Raka dinyatakan tewas saat longsor menimpa terowongan jalur atas sembilan tahun lalu.
Versi cerita resminya sederhana: kereta pengangkut logistik tergelincir, longsor kedua datang lebih cepat dari perkiraan, dan tubuh beberapa awak tak pernah ditemukan. Kakekku berhenti bicara banyak sejak malam itu. Ibu melarangku bertanya. Desa memilih diam karena duka di pegunungan selalu cepat diubah menjadi kebiasaan.
Namun aku tak pernah benar-benar percaya Raka hilang begitu saja. Terlalu banyak yang aneh sejak awal: tidak ada pemakaman, tidak ada barang pribadi yang kembali selain sebuah jam saku rusak, dan tidak ada satu pun orang yang berani menceritakan malam kecelakaan itu tanpa mengalihkan mata.
Aku pernah mencintainya diam-diam waktu berumur tujuh belas. Ia lima tahun lebih tua, sering membawakan roti hangat dari stasiun kota, dan selalu pura-pura tak tahu saat aku berdiri terlalu lama di ujung peron hanya untuk melihatnya turun dari kabin lokomotif. Pada malam sebelum ia dinyatakan hilang, ia sempat datang ke rumah dinas membawa selendang wol abu-abu dan berkata pada kakek bahwa ada jalur yang seharusnya tidak dibuka malam itu.
Keesokan paginya, longsor menelan semua penjelasan.
Aku memalingkan wajah dari foto dan melangkah ke kamar kakek. Di atas meja, lampu minyak tua masih terisi setengah. Di bawah alasnya terselip secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.
Nadya, kalau kau datang saat kabut turun, nyalakan lampu ini dulu. Ada hal-hal di rumah gunung yang baru berani jujur kalau listrik dan manusia sama-sama berhenti terlalu lama.
Aku menatap kertas itu agak lama sebelum benar-benar menyalakan lampu. Cahaya kuning kecil segera menghangatkan kamar dan membuat dinding papan yang dingin tampak lebih manusiawi. Untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil bak sewaan, aku merasa stasiun, rumah, dan gunung di sekelilingku sedang menunggu sesuatu yang sama.
Ruang Sinyal
Jam di ponselku menunjukkan pukul 18.24 ketika aku menyeberang kembali ke stasiun. Kabut makin tebal. Dari kejauhan, kebun teh tampak seperti laut putih kusam yang menelan batas bukit. Aku membuka pintu bangunan sinyal dengan kunci besi dari Pak Harun dan langsung disambut bau oli tua, karat, kertas lembap, dan debu yang selama bertahun-tahun tak diganggu siapa pun.
Di dalam ruangan sempit itu, tuas-tuas pengalih jalur masih berdiri berjajar seperti tulang punggung hewan besar yang sudah mati. Peta rel kusam tergantung di dinding. Kotak telepon lapangan masih menempel, diam seperti saksi yang terlalu lama dibungkam.
Di atas meja operator ada sebuah koper kulit cokelat, retak di bagian gagangnya dan tertutup lapisan debu tipis. Pada permukaannya terikat pita kain merah yang sudah pudar. Di bawahnya ada amplop putih bertuliskan namaku.
Dadaku langsung menegang.
Aku membuka amplop itu terlebih dahulu.
Nadya,
Kalau kau membaca ini, berarti aku gagal membuat tempat ini aman sebelum kau dewasa. Maaf. Kakekmu ingin sekali membawa semua ini ke aparat, tapi gunung punya caranya sendiri untuk melindungi orang-orang yang terlalu dekat dengan kekuasaan.
Malam longsor itu bukan kecelakaan murni. Jalur atas dipaksa dibuka untuk satu rangkaian tak terdaftar yang membawa peti-peti dari gudang militer lama menuju pabrik pengolahan di lembah. Raka menolak menjalankan lokomotif karena rem di gerbong ketiga bermasalah dan tebing baru saja diguyur hujan empat hari berturut-turut. Ada orang-orang yang memaksanya tetap berangkat.
Kalau koper ini sampai ke tanganmu, berarti mereka belum berhasil menemukan semua salinan yang kusimpan. Jangan serahkan pada orang yang datang menawar rumah dinas dengan terlalu tergesa. Mereka tidak mengincar rumah ini. Mereka mencari buku log perjalanan dan peta jalur cadangan yang Raka titipkan padaku malam sebelum semuanya runtuh.
Ada nama-nama yang akan membuatmu sulit tidur. Salah satunya mungkin sudah sangat dekat dengan keluargamu sekarang.
— Kakek
Aku membaca kalimat terakhir berkali-kali, seolah huruf-huruf itu bisa berubah kalau kutatap cukup lama.
Tangan dinginku bergerak membuka koper kulit itu. Di dalamnya tertata rapi buku log perjalanan, peta rel lama, foto-foto malam berkabut dengan lampu lokomotif samar, dan sebuah senter sinyal kecil yang sudah penyok. Di sela map kain biru, terselip foto yang membuat napasku nyaris terputus.
Foto itu menampilkan tiga lelaki berdiri di dekat lokomotif barang. Salah satunya Raka. Lelaki kedua tak kukenal. Lelaki ketiga membuat tengkukku membeku.
Bram Santoso.
Pria yang sekarang menawar rumah dinas dan lahan belakang stasiun untuk dibangun villa pegunungan.
Ia jauh lebih muda di foto itu, tetapi garis rahang, cara berdirinya, dan bekas sayatan tipis di dagu kirinya persis sama. Di tangannya ada map logistik bersampul hitam. Di belakang foto, dengan pensil mekanik yang hampir pudar, Raka menulis satu kalimat:
Kalau aku hilang, jangan percaya pada orang yang paling cepat datang menawarkan pengganti.
Perutku mual. Tiba-tiba semua hal terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Bram datang sebulan setelah kakek meninggal. Ia menawarkan uang besar, berbicara manis, dan berkali-kali menyebut rumah dinas ini tak punya masa depan selain jadi tempat singgah wisatawan. Aku hampir percaya karena kelelahan sering membuat tawaran licik terdengar seperti pertolongan.
Di dasar koper, aku menemukan buku log utama. Halaman-halamannya penuh catatan jadwal, cuaca, dan nomor rangkaian. Pada tanggal malam longsor, ada satu entri yang sengaja dicoret tebal. Di balik coretan masih terbaca beberapa potong kata: rangkaian tambahan, jalur atas dibuka atas perintah B.S., Raka menolak, tebing rapuh.
Aku menutup mulutku sendiri. Huruf-huruf itu terasa seperti rel dingin yang ditempelkan ke tengkuk.
Lalu sesuatu berdetak pelan di sudut meja.
Sebuah tape recorder portabel kecil.
Aku nyaris tak melihatnya karena tertutup kain lap. Di sampingnya ada baterai cadangan dan satu kaset mini. Dengan tangan yang tidak lagi stabil, aku menekan tombol play.
Suara yang keluar pertama kali bukan suara kakek.
Itu suara Raka.
Suara dari Malam Longsor
Desis angin memenuhi rekaman beberapa detik sebelum suaranya terdengar, berat dan terburu-buru.
"Pak, kalau kaset ini diputar berarti saya tidak sempat kembali sebelum jadwal subuh. Jalur atas seharusnya ditutup. Rem gerbong ketiga panas sejak tikungan kebun teh, tapi Bram dan orang-orangnya memaksa rangkaian tetap jalan. Mereka bilang muatan harus sampai malam ini juga. Saya sudah lihat lereng timur retak. Kalau kereta itu naik sekarang, tebing bisa turun kapan saja."
Aku menahan napas sampai dada terasa sakit.
Suara kakek menyahut dari rekaman, terdengar lebih muda dan lebih marah daripada yang pernah kuingat. "Kalau begitu jangan jalan. Biar aku yang hadapi mereka."
Ada jeda, suara hujan di atap seng, lalu Raka kembali bicara—kali ini lebih pelan.
"Kalau saya tidak naik, mereka akan pakai orang lain yang tidak tahu jalurnya, Pak. Yang di bawah ada anak-anak magang. Kalau kecelakaan, korban lebih banyak. Kalau saya yang bawa, paling tidak saya masih bisa coba berhenti sebelum tikungan terowongan."
"Kamu jangan jadi pahlawan bodoh, Ka."
Suara berikutnya membuat jantungku berhenti satu detik.
Itu suaraku sendiri.
Lebih muda, lebih ringan, nyaris tak kukenali. "Mas Raka, jangan berangkat malam ini."
Aku memejamkan mata. Jadi aku memang ada di sana malam itu. Aku hanya dipaksa melupakan bagian-bagian yang paling penting.
Rekaman berlanjut dengan suara kursi bergeser dan langkah terburu-buru. Lalu Raka bicara lagi, seolah sangat dekat dengan alat perekam.
"Kalau sesuatu terjadi, kasih tahu Nadya saya tidak pergi karena mau meninggalkan siapa pun. Dan tolong simpan peta jalur cadangan. Jalur itu satu-satunya bukti kalau muatan mereka memang tidak terdaftar."
Setelah itu terdengar bunyi pintu dibuka keras, seseorang berteriak dari jauh, lalu rekaman berhenti mendadak.
Aku duduk di kursi operator yang dingin, memeluk tape recorder itu ke dada seperti benda itu punya suhu tubuh. Selama bertahun-tahun aku hidup dengan luka yang bentuknya kabur: kehilangan seseorang tanpa kubur, tanpa penjelasan, tanpa kesempatan marah pada orang yang benar. Kini suara dari kaset tua itu memberi bentuk pada luka tersebut—dan bentuknya jauh lebih kejam daripada yang pernah kubayangkan.
Raka tidak mati karena bencana semata.
Ia didorong masuk ke malam yang sudah disiapkan untuk menelannya.
Dari luar, terdengar langkah sepatu di peron.
Satu orang.
Lalu dua.
Aku mematikan tape recorder, memasukkan buku log, foto, dan kaset ke dalam tas kain yang kutemukan di dalam koper. Dari jendela sempit ruang sinyal, aku melihat sorot lampu mobil berhenti di depan stasiun.
Pintu mobil terbuka. Seorang lelaki keluar sambil membenahi kerah jas tebalnya.
Bram.
Bahkan dari jarak itu, aku mengenali cara ia berjalan—terlalu tenang untuk orang yang datang ke stasiun mati saat kabut turun. Dua laki-laki lain mengikutinya, membawa senter dan sesuatu yang tampak seperti linggis pendek.
"Nadya!" suaranya menggema di peron. "Pak Harun bilang kamu sudah datang. Bagus. Biar kita bicara sekarang saja. Besok saya harus balik ke kota."
Aku menahan napas.
Kabut di luar jendela bergerak pelan, seperti paru-paru besar yang ikut mendengarkan.
Masinis yang Tidak Mati
Di belakang ruang sinyal ada pintu servis yang langsung terhubung ke jalur inspeksi menuju lereng timur. Pak Harun pernah bilang jalur itu dulu dipakai petugas sinyal untuk mengecek tebing dan kabel. Jarang orang luar tahu pintu tersebut masih bisa dibuka.
Aku mendorongnya perlahan. Udara gunung yang basah langsung menampar wajahku. Lampu minyak dari rumah dinas masih terlihat samar di kejauhan, seperti mata kecil yang menolak padam. Aku melangkah ke jalan setapak berlumpur sambil menggenggam tas seerat mungkin.
Dari bawah terdengar Bram mulai menggedor pintu depan bangunan sinyal. "Aku tahu kamu di dalam. Jangan bikin semuanya sulit. Surat rumah itu bisa kita bereskan malam ini juga."
Sulit sekali menahan diri untuk tidak tertawa. Malam ini ia masih berpikir aku hanya memegang surat tanah.
Aku baru berjalan sekitar dua puluh meter ketika dari balik semak pinus di sisi lereng, seseorang keluar dan berdiri diam di tengah kabut.
Refleks aku mundur setapak. Tangan kananku meraba batu paling dekat yang bisa kugunakan untuk melindungi diri.
Lelaki itu mengangkat kedua tangannya perlahan.
"Nadya. Jangan teriak."
Suara itu membuat seluruh tubuhku seperti berhenti milik diriku sendiri.
Ia lebih kurus daripada kenangan yang kusimpan sembilan tahun terakhir. Wajahnya lebih tajam, kulitnya lebih gelap, ada bekas luka memanjang di dekat pelipis kanan, dan bahunya sedikit miring seperti orang yang pernah lama hidup dengan nyeri yang tak sempat sembuh sempurna. Namun matanya tetap sama—mata yang dulu selalu lebih dulu tertawa sebelum bibirnya ikut melakukannya.
"Raka," bisikku, hampir tanpa suara.
Kabut menempel di rambutnya yang basah. Ia menelan ludah sebelum mengangguk. "Aku cuma punya sedikit waktu. Bram pasti tahu aku turun ke jalur lama sore tadi. Dia tidak akan pergi sebelum menemukan apa yang dibawa kakekmu."
Kemarahan yang tak pernah punya alamat tiba-tiba menemukan tubuh untuk dituju. "Kau hidup," kataku parau. "Sembilan tahun, dan kau hidup."
Rahangnya menegang. "Aku hidup karena malam itu aku jatuh ke jalur cadangan waktu lokomotif menghantam longsor pertama. Pekerja jalur bawah menemukanku sebelum orang-orang Bram kembali menyisir terowongan. Mereka menyembunyikanku, lalu membawaku pindah-pindah karena namaku sudah masuk daftar orang yang harus hilang. Aku mencoba kirim kabar dua kali. Dua-duanya gagal sampai ke tangan kakekmu."
Aku ingin memukulnya. Aku juga ingin memeluknya. Aku membenci kenyataan bahwa setelah sembilan tahun, dua keinginan itu bisa hidup di dada yang sama.
"Dan selama itu kau tidak sekali pun datang menemuiku?"
"Kalau aku datang, yang diburu bukan cuma aku." Suaranya pecah di ujung kalimat. "Bram tidak hanya menutup jalur. Dia membeli polisi, mandor, dan semua orang yang bisa menghapus jejak. Kakekmu yang melarangku mendekat sebelum buku log dan peta cadangan aman. Katanya, lebih baik kau membenciku daripada dikubur di lereng yang sama."
Dari arah stasiun, teriakan terdengar makin dekat. Senter-senter menyapu kabut seperti mata serigala.
Raka maju setengah langkah. "Apa log itu ada padamu?"
Aku tidak langsung menjawab. Sebagai gantinya, aku membuka tas sedikit hingga ujung buku log dan kaset terlihat.
Untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu yang mirip harapan menyala di wajahnya. "Kalau begitu kita masih punya kesempatan. Jalur inspeksi ini tembus ke pos air lama. Di sana ada radio lapangan yang mungkin masih bisa dipakai."
"Dan setelah itu?"
Ia menoleh ke arah lampu-lampu senter yang makin dekat. "Setelah itu, kau akhirnya akan tahu kenapa ibumu memutuskan menikah dengan Bram dua tahun setelah aku dinyatakan mati."
Kalimat itu membuat seluruh kabut, dingin, dan suara hutan serasa mendadak menyempit di sekelilingku.
Langkah-langkah di belakang kami berhenti. Dari arah bawah lereng, suara Bram terdengar tenang sekali—terlalu tenang untuk seorang lelaki yang baru kehilangan kendali.
"Kalau dia sudah mengatakan pada kamu bahwa dia selamat, berarti sekarang waktunya dia juga mengatakan siapa yang sebenarnya memintaku membuka jalur itu malam longsor."
