Gerimis di Bioskop Pelabuhan
Ratri datang ke bioskop tua di kota pelabuhan untuk menagih utang penjualan gedung, tetapi gulungan film terakhir, kursi-kursi berdebu, dan kemunculan lelaki yang pernah hilang di laut justru membuka rahasia yang selama ini dikubur keluarganya.
Gerimis di Bioskop Pelabuhan
Gerimis turun miring di sepanjang dermaga ketika aku mendorong pintu samping Bioskop Samudra yang sudah tiga belas tahun tak pernah lagi menyalakan papan judulnya. Cat biru tua di dinding depan telah mengelupas seperti sisik ikan asin, kaca loket tiket retak di sudut kanan, dan poster-poster film lama di koridor masuk sudah berubah menjadi bayangan warna yang nyaris tidak bisa dibedakan antara wajah manusia dan jamur lembap. Dari luar, bangunan itu tampak seperti paru-paru kota yang dibiarkan berhenti bekerja. Dari dalam, ia terasa seperti seseorang yang masih ingin bicara, tetapi dipaksa menelan suaranya sendiri.
Aku datang membawa map perjanjian jual beli di dalam tas, bukan rasa sayang.
Setidaknya itu yang berulang kali kuucapkan di perjalanan dari Surabaya ke kota pelabuhan kecil ini. Ayah tiriku membutuhkan uang cepat untuk menutup utang gudang es. Tante-tanteku menganggap gedung tua di tepi pelabuhan tak ada gunanya selain menjadi sarang tikus. Satu-satunya pembeli yang serius adalah perusahaan logistik yang ingin merobohkan bioskop itu dan menggantinya dengan gudang kontainer. Semua orang bilang aku beruntung karena pembeli datang sebelum atap gedung ambruk lebih dulu.
Namun ketika telapak tanganku menyentuh dinding lobi yang dingin dan mencium bau asin laut bercampur debu tirai beludru, sesuatu dalam diriku menolak menyebut tempat ini sekadar aset.
Di ruang depan, kursi-kursi kayu tunggu masih berjajar rapi meskipun separuhnya goyah. Mesin pembuat karcis manual yang dulu sangat disayang ibuku masih berada di meja kecil dekat loket. Aku mengusap permukaannya dengan ujung jari, dan debu menempel di kulitku seperti serbuk dari masa kecil yang tak benar-benar hilang.
Ibuku pernah menjadi kasir bioskop ini. Orang yang paling hafal kursi mana bunyinya berdecit, film India mana yang membuat penonton ibu-ibu menangis paling keras, dan bagaimana menenangkan anak-anak yang takut saat lampu ruangan dimatikan. Aku tumbuh di belakang loket, di sela suara proyektor, bau jagung karamel, dan tawa para buruh pelabuhan yang datang menonton setelah kapal mereka sandar.
Lalu suatu malam, ketika aku berumur empat belas tahun, layar besar di auditorium utama memutar film terakhirnya. Setelah itu listrik bioskop diputus, pemiliknya meninggal, ibuku sakit, dan semua yang dulu terasa abadi bubar satu per satu seperti penonton yang dipaksa pulang sebelum kisah usai.
Aku belum pernah kembali sejak pemakaman ibu.
"Kau tetap keras kepala seperti ibumu."
Suara itu datang dari belakangku. Aku menoleh dan mendapati Pak Narto—mantan operator proyektor—berdiri di ambang pintu sambil membawa termos tua dan payung lipat hitam. Tubuhnya kini membungkuk, rambutnya memutih habis, tetapi matanya masih setajam dulu, seolah bahkan debu bioskop pun tak berani berbohong di hadapannya.
"Saya datang untuk membereskan urusan, Pak," kataku.
"Orang yang datang hanya untuk urusan tidak akan berdiri selama itu memandangi mesin karcis." Ia berjalan masuk, meletakkan termos di meja, lalu mengeluarkan kunci besar dari saku kemejanya. "Sebelum kau tanda tangan apa pun besok pagi, masuklah ke ruang proyektor. Ibumu pernah menitipkan sesuatu di sana. Katanya, kalau suatu hari kau kembali hanya untuk menjual gedung ini, berarti waktunya sudah habis dan rahasia itu tak boleh ikut dihancurkan."
Aku mengerutkan kening. "Rahasia?"
Pak Narto menatap ke arah auditorium yang gelap. "Di kota pelabuhan, yang paling cepat tenggelam bukan kapal. Yang paling cepat tenggelam adalah kebenaran, kalau terlalu banyak orang hidup dari kebohongan yang sama."
Kalimat itu terlalu puitis untuk selera lelaki setua dia, dan justru karena itu aku merasa tidak nyaman.
Ruang yang Menelan Cahaya
Aku menyalakan lampu darurat di ponsel dan berjalan menyusuri koridor utama. Karpet merah yang dulu tebal kini compang-camping di beberapa tempat. Udara di dalam auditorium terasa lembap dan dingin, tetapi panggung kecil di depan layar masih terlihat jelas. Tirai beludru merah kusam menggantung setengah terbuka, memperlihatkan layar putih besar yang kekuningan dimakan usia.
Aku berhenti di tengah deretan kursi. Dari tempat itu, aku bisa membayangkan dengan terlalu mudah bagaimana ibu dulu melambaikan tangan dari samping pintu masuk ketika aku diam-diam masuk tanpa karcis untuk menonton pertunjukan siang. Aku bisa mendengar tawa penonton, suara mesin proyektor berdetak dari belakang, dan langkah-langkah kaki seorang lelaki muda berseragam kapal yang dulu sering berdiri menunggu film selesai sambil membawa sekotak roti tawar.
Namanya Adrian.
Semua orang di kota ini mengenalnya dulu sebagai mualim muda dari kapal kargo antarpulau. Ia sering datang bukan karena suka film, tetapi karena suka pada ibuku. Saat aku masih kecil, aku menyebutnya Om Adrian, lalu diam-diam menyukainya lebih dari ayah kandungku sendiri yang tak pernah menjemputku di sekolah, tak pernah mengingat ulang tahunku, dan lebih sering menghilang untuk berjudi daripada mencari nafkah.
Adrian adalah satu-satunya lelaki dewasa yang pernah membelikan aku buku cerita tanpa diminta. Ia juga yang mengajari aku membedakan suara kapal barang, kapal penumpang, dan kapal nelayan hanya dari bunyi klaksonnya di malam hari.
Lalu ia hilang di laut.
Begitulah cerita yang ditanamkan ke kepalaku selama bertahun-tahun. Kapal yang ditumpanginya karam saat badai di Selat Makassar. Tak ada jenazah, tak ada barang kembali, hanya satu kabar pendek dari perusahaan pelayaran dan wajah ibu yang setelah itu berubah seperti jendela yang tertutup dari dalam.
Aku naik ke tangga besi menuju ruang proyektor. Setiap pijakan berderit, menggema di ruangan kosong seperti seseorang yang sengaja mengikutiku dari bawah. Di lantai atas, pintu ruang proyektor macet karena karat. Aku mendorongnya dengan bahu sampai akhirnya terbuka, melepaskan bau logam tua, oli kering, dan gulungan seluloid yang menyimpan kelembapan puluhan musim hujan.
Di sana, dua mesin proyektor tua berdiri seperti hewan besar yang mati sambil menjaga sesuatu.
Di atas meja kontrol, aku menemukan sebuah kotak besi kecil. Kuncinya masih tertancap. Di bawahnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan ibu yang langsung membuat tengkukku dingin.
Kalau kau membaca ini, berarti kau datang saat hujan. Kau memang selalu pulang pada cuaca yang paling mirip dengan hatimu sendiri.
Aku menarik napas pendek.
Jangan percaya siapa pun yang datang menawar gedung ini terlalu tergesa. Mereka tidak mencari kursi, layar, atau tanah kosong. Mereka mencari gulungan film nomor tujuh yang kusimpan di lemari proyektor sebelah timur. Di dalam kaleng film itu ada sesuatu yang dulu membuatku kehilangan lebih dari pekerjaan.
Tanganku spontan mencari lemari yang dimaksud. Pintu lemari besi itu setengah rusak, tapi masih bisa dibuka. Di dalamnya berjajar beberapa kaleng film bundar berkarat. Pada kaleng ketiga dari atas tertulis angka 7 dengan cat putih yang hampir luntur.
Kaleng itu jauh lebih berat daripada seharusnya.
Aku membawanya ke meja dan membukanya perlahan. Gulungan film memang ada di dalam, tapi di rongga bawah kaleng terselip amplop plastik tahan air berisi buku kas kecil, beberapa lembar foto, dan sebuah pita kaset mini. Dadaku langsung mengencang.
Foto pertama menampilkan ibu di loket bioskop, tersenyum ke arah kamera. Foto kedua memperlihatkan beberapa lelaki berdiri di gudang pelabuhan pada malam hari. Wajah dua orang tampak asing. Wajah ketiga membuat jari-jariku kaku.
Hendra Wijaya.
Ayah tiriku.
Ia jauh lebih muda di foto itu, tetapi rahang keras dan cara matanya menatap lurus ke kamera tanpa rasa bersalah tak mungkin salah. Di tangannya ada map besar berstempel Bea Cukai. Di belakang mereka terlihat peti-peti kayu tanpa label.
Aku membuka buku kas kecilnya. Halamannya berisi catatan tanggal, nomor peti, kapal, dan angka-angka setoran yang tak mungkin berkaitan dengan penjualan tiket bioskop. Di beberapa bagian, ibu menulis singkat dengan huruf miring kecil: diselundupkan lewat ruang belakang, ganti label sebelum subuh, Adrian bilang simpan salinan.
Lututku terasa lemas.
Selama ini aku mengira bioskop itu tutup karena rugi dan karena ibu terlalu sakit untuk meneruskannya. Ternyata tempat ini pernah dijadikan lorong aman untuk memindahkan dokumen dan barang selundupan dari pelabuhan ke truk-truk darat. Ibu mengetahui semuanya. Adrian pun mengetahui semuanya. Dan keduanya diam sampai sesuatu terjadi.
Aku memasukkan pita kaset mini ke pemutar kecil yang masih tergeletak di laci meja, berharap benda itu belum mati total. Ajaibnya, setelah beberapa kali percobaan dan bunyi berderit yang menyiksa, suara mulai keluar dari speaker pecahannya.
Suara pertama adalah suara ibu.
"Kalau Ratri yang mendengar ini, berarti aku gagal menjauhkanmu dari lumpur yang sama. Maaf."
Darahku seolah berhenti mengalir.
Suara dari Kaset yang Disembunyikan
Rekaman itu dipenuhi desis, tetapi suaranya tetap bisa dikenali. Ibu terdengar lebih muda, napasnya terburu-buru.
"Mereka memakai gudang belakang bioskop karena semua orang mengira tempat ini mati setelah pertunjukan malam. Peti-peti dari kapal masuk lewat pintu servis, lalu dokumen palsunya ditukar di ruang proyektor sebelum fajar. Aku menolak ikut menutup mata saat tahu salah satu peti membawa obat palsu yang akan dikirim ke pulau-pulau kecil. Adrian mau melapor. Sejak malam itu, kami diikuti."
Terdengar jeda panjang, lalu suara langkah, dan suara lelaki lain masuk—lebih pelan, berat, dan sangat kukenal meski nyaris sepuluh tahun tak pernah mendengarnya.
Adrian.
"Murni, kalau sesuatu terjadi padaku, jangan bawa Ratri ke siapa pun dari keluarga Hendra. Dia sudah terlalu dalam. Simpan foto, catatan, dan pita ini. Kalau gedung bioskop tiba-tiba ingin dibeli murah, berarti mereka takut barang bukti itu ditemukan."
Aku menjatuhkan diri ke kursi operator, tangan gemetar tak terkendali.
Ayah tiriku tahu. Bahkan mungkin terlibat langsung.
Bukan hanya soal utang gudang es yang selama ini dipakai untuk membenarkan penjualan gedung. Mungkin sejak awal ia memang menunggu saat paling tepat untuk menguasai bangunan ini dan menghapus semua jejak.
Suara ibu kembali terdengar, kali ini lebih lirih. "Kalau Adrian tidak kembali, jangan bilang pada Ratri bahwa ia lari. Aku tak mau anak itu tumbuh sambil membenci orang yang sebenarnya berusaha menyelamatkan kami. Tapi kalau suatu hari kau harus memilih antara memberitahu kebenaran atau menyelamatkannya dari rasa sakit, pilih rasa sakit yang datang belakangan."
Rekaman berhenti dengan klik pendek.
Aku menatap pita kaset itu seperti menatap seekor hewan kecil yang tiba-tiba menggigit balik tangan orang yang menganggapnya tak berbahaya. Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan satu versi cerita: Adrian tenggelam, ibu pasrah, hidup kami rusak karena nasib buruk. Kini satu rekaman murah memutar semua itu terbalik. Yang menenggelamkan hidup kami mungkin bukan laut, melainkan manusia yang berdiri di meja makan kami sendiri.
Dari bawah, terdengar bunyi pintu auditorium dibuka.
Satu kali.
Lalu dua kali lebih keras.
Aku mematikan pemutar kaset dan menahan napas. Beberapa detik kemudian suara langkah berat memasuki lorong bawah. Ada lebih dari satu orang.
"Ratri!" seru suara laki-laki dari auditorium. "Kau di atas?"
Aku mengenali suara itu.
Hendra.
Aku memasukkan buku kas, foto, dan kaset ke dalam tas dengan tangan hampir tak bisa bekerja. Jantungku menghantam rusuk. Dari celah kaca kecil ruang proyektor, aku melihat dua sorot senter menyapu kursi-kursi penonton seperti mata binatang malam.
"Pak Narto bilang kau ke sini," suara Hendra terdengar lagi, kini berusaha halus. "Jangan macam-macam. Besok notaris datang. Tidak ada gunanya mengorek masa lalu yang sudah mati."
Aku menggigit bibir sampai terasa asin darah. Masa lalu tidak mati. Ia hanya disekap terlalu lama.
Lelaki yang Tidak Tenggelam
Di sisi lain ruang proyektor ada pintu servis yang menuju tangga darurat belakang. Aku belum yakin tangga itu masih kuat, tetapi pilihannya hanya itu atau turun menemui lelaki yang mungkin telah berbohong padaku sepanjang separuh hidup.
Aku membuka pintu servis pelan-pelan. Angin laut langsung menerpa wajahku bersama aroma solar, garam, dan hujan. Tangga besi di luar licin, namun masih bisa dipakai. Aku turun satu per satu sambil memeluk tas ke dada.
Gang sempit di belakang bioskop gelap dan becek. Air mengalir dari talang bocor, menetes ke peti-peti ikan kosong yang ditumpuk dekat tembok. Dari kejauhan terdengar klakson kapal panjang dan sendu, seperti panggilan dari waktu yang terlalu jauh.
Aku baru melangkah tiga meter ketika seseorang muncul dari balik bayangan gudang es tua di seberang gang.
Refleks aku mundur. Tanganku sudah meraba sesuatu yang bisa dijadikan senjata ketika lelaki itu mengangkat kedua tangannya perlahan.
"Ratri. Jangan teriak."
Suara itu membuat seluruh tubuhku membeku.
Lelaki di depanku lebih kurus daripada yang kuingat dari masa remaja. Wajahnya lebih keras, kulitnya lebih gelap, ada bekas luka tipis di dekat alis kiri, dan rambut di pelipisnya mulai disentuh uban. Tapi mata itu tetap sama—mata yang dulu menunduk sejajar denganku saat mengajariku cara melipat kertas kapal agar tidak gampang karam.
"Adrian," bisikku nyaris tanpa suara.
Ia menelan ludah sebelum mengangguk. Gerimis membasahi bahunya. "Aku tak punya banyak waktu. Mereka melihatku turun dari kapal tadi sore. Aku kira aku masih sempat mendahului mereka ke bioskop, tapi ternyata tidak. Kau menemukan kasetnya?"
Pertanyaan itu terlalu tepat untuk dipalsukan.
Namun kemarahan bertahun-tahun yang tak sempat mati bangkit justru pada saat wajahnya muncul lagi di depan mataku. "Kau hidup," kataku parau. "Selama ini kau hidup."
Rahangnya menegang. "Aku hidup. Dan itu justru alasan kenapa aku tidak boleh kembali cepat."
Aku tertawa pendek, pahit. "Aneh sekali. Semua orang di kota ini bisa berbohong dengan alasan yang sangat mulia."
Langkah-langkah dari dalam bioskop terdengar makin dekat. Adrian mendekat setengah langkah, cukup untuk membuatku melihat betapa lelah matanya.
"Dengar aku dulu. Kapal itu tidak karam. Muatannya dibajak di tengah laut karena ada sengketa antarkelompok penyelundup. Aku selamat, tapi namaku masuk sebagai orang yang harus dibungkam karena tahu jalur obat palsu itu. Aku mencoba kembali dua kali. Dua-duanya gagal. Murni memintaku jangan mendekat selama Hendra masih memegang semua pintu masuk kota ini."
Mendengar ibu dipanggil dengan namanya begitu saja membuat tenggorokanku panas. "Dan kau menuruti itu?"
"Kalau aku datang, yang pertama mati bukan aku. Yang pertama mati kalian." Ia mengembuskan napas kasar. "Murni tak pernah memberitahumu?"
Aku menatapnya, dan pada detik itu aku tahu jawaban apa pun akan sia-sia. Ibu memang tak pernah memberitahuku. Ia memilih membuatku tumbuh dengan kemarahan yang salah daripada kuburan yang benar.
Pintu servis belakang bioskop mendadak terbuka keras. Sorot senter memotong hujan.
"Dia di sana!" teriak salah satu lelaki.
Adrian menarik pergelangan tanganku dan membawaku berlari menyusuri gang sempit menuju gudang jaring tua di belakang pasar ikan. Aku nyaris terpeleset dua kali. Hujan turun makin deras, menampar atap seng, tanah, dan punggungku sampai semua suara berubah menjadi satu gemuruh panjang.
Kami berlindung sebentar di bawah kanopi karatan gudang. Napasku memburu. Adrian menatap tas yang kupeluk erat.
"Kalau kaset, foto, dan buku itu sudah kau pegang, jangan bawa ke notaris. Jangan ke polisi kota ini juga. Ada satu orang di Surabaya yang masih bisa dipercaya—mantan penyidik Bea Cukai. Namanya ada di balik foto paling akhir."
Aku membuka tas dan membalik foto-foto dengan tangan basah. Benar saja, di belakang foto terakhir tertulis sebuah nama dan alamat singkat dengan tulisan ibu.
Sebelum sempat kubaca penuh, langkah-langkah kembali mendekat. Kali ini lebih banyak.
Adrian menoleh ke ujung gang, lalu ke arah pelabuhan. Wajahnya berubah seperti seseorang yang akhirnya tiba di ujung penundaan.
"Ratri, kalau malam ini aku gagal membawamu keluar, ada satu hal yang harus kaudengar sekarang juga."
Aku menatapnya tajam. Dalam hujan dan napas yang acak-acakan, lelaki itu tidak lagi tampak seperti kenangan. Ia tampak seperti kabar buruk yang datang terlambat dan kebenaran yang datang bersamanya.
"Apa?"
Bibir Adrian terbuka, tetapi sebelum ia sempat bicara, suara Hendra terdengar dari ujung gang dengan nada yang sangat tenang—terlalu tenang untuk lelaki yang sedang mengejar anak tirinya sendiri.
"Kalau kau masih ingin tahu kenapa ibumu mati lebih cepat dari seharusnya, datanglah ke sini sekarang, Ratri. Biar aku tunjukkan siapa lelaki yang sebenarnya menghancurkan hidup keluarga kita."
